Sehinggarnereka beranggapan (sebagaimana yang sering terbaca dalam Babad Cirebon), bahwa Pangeran Walangsungsang itu, diusir dari keraton Pakuan Pajajaran, akibat konflik agama dengan ayahnya. Sementara itu, Ki Gedeng Tapa, kakeknya Pangeran Walangsungsang yang menjadi penguasa wilayah Singapore (Cirebon), telah memukimkan seorang Guru Agama Islam mazhab Syafi'i: Syekh Datuk Kahfi.
Cirebon OnlineNgamprah – Kabupaten Bandung Barat sebelumnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kabupaten Bandung. Dalam perjalanan historisnya, Bandung Barat juga tak terpisahkan dari wilayah Priangan. Bahkan, tak juga bisa dipisahkan dalam konteks sejarah Jawa Barat atau Sunda pada umumnya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mengungkap bahwa Jawa Barat telah dihuni oleh masyarakat manusia dari prasejarah dan sejarah. Salah satunya bisa dibuktikan dengan adanya Makam Keramat Syekh Maulana Muhammad Syafe’i atau yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Atas Angin yang berada di Kampung Keramat Wali RT01/RW07 Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Untuk menuju ke lokasi objek Makam Syekh Maulana Muhammad Syafe’ i akan melalui jalan yang cukup representatif lantaran merupakan jalan provinsi yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Komplek makam keramat Syekh Maulana Muhammad Syafe’i merupakan makam keluarga dan posisinya juga berada dalam benteng. Sementara itu, makam-makam yang berada dalam pagar tersebut berjumlah 11 makam. Kesebelas makam tersebut tidak menggunakan jirat ataupun nisan, namun ditata dengan batu-batu alam dengan membentuk pola segi empat. Di sebelah timur makam terdapat sebuah masjid, sementara di sebelah barat makam terdapat bangunan khusus untuk berziarah. Bangunan tersebut cukup representatif, terdapat ruangan khusus untuk pria ukuran 9 x 13 meter dan untuk wanita 9 x 16 m. Di samping itu, terdapat pula kamar khusus sebanyak 4 empat kamar dengan ukuran 2,25 x 3 meter. Kamar-kamar tersebut berada di bawah tanah, posisinya berada di bawah ruangan berziarah bagi kaum wanita. Fungsi kamar di bawah tanah itu adalah untuk berkhalwat atau menyepi. Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya pada Disparbud KBB Asep Diki Hidayat mengatakan, semula Desa Cijenuk bernama Kampung Panaruban. Kata Panaruban sendiri berasal dari bahasa Arab Taharub’ yang berarti mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Syekh Maulana Muhammad Syafe’i dalam menyebarkan dan mengajarkan agama Islam melalui metode zikir,” katanya, Rabu 22 September 2021. Lama kelamaan, sambung dia, di tempat tersebut banyak didatangi para santri yang ingin belajar Islam. “Maka tempat tersebut dinamai Cijenuk tempat berkumpul. Dalam perkembangan selanjutnya, kampung tersebut berubah menjadi Cijenuk,” sambungnya. Lebih lanjut Asep menerangkan, Syekh Maulana Muhammad Syafe’i diduga berasal dari Banten. Kehadirannya di tempat tersebut, di samping lokasinya cocok untuk pengembangan ajaran Islam, juga sebagai tempat perlindungan dari kejaran kolonial Belanda. “Waktu abad ke-18 melakukan pembantaian terhadap para bangsawan Banten dan keturunannya,” terangnya. Ia menyebut, Syekh Maulana Muhammad Safe’i merupakan salah satu dari keturunan dari para Sultan Banten. Antara Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon, kata dia, masih terkait hubungan darah dan titik sentralnya diambil dari garis Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. “Mengingat masih ada garis keturunan dari Kesultanan Cirebon, maka keturunan Syekh Maulana Muhammad Syafe’i Cijenuk keberadaannya sampai dengan sekarang diakui oleh Kesultanan Kanoman, Cirebon,” tandasnya. Agus Satia Negara.***
VnzGs. 34 158 135 245 193 477 30 105 285
pangeran atas angin cirebon